#TUMBloggers Financial

Sudah Periksa Kesehatan Keuangan Keluarga Kamu?

August 9, 2017

Ternyata bukan hanya loh kesehatan yang mesti rajin dicheck up, tetapi kondisi keuangan keluarga juga wajib. Malah sebaiknya setiap tahun setiap keluarga itu mengevaluasi kembali kondisi keuangan keluarganya. Idealnya sih, setiap tahun aset kita bertambah 10%. Gimana cara menghitungnya? Sebelum pusing menghitung jumlah asset dan kenaikan/penurunannya, saya akan berbagi sharing dari Mbak Prita Ghozie, Financial Educator yang menjadi narasumber di event #IbuBerbagiBijak Visa Financial Literacy Workshop beberapa waktu yang lalu.

Sebagai seorang ibu, siapa diantara teman-teman yang merangkat menteri keuangan di rumah? maksudnya yang memiliki kekuasaan mengatur arus kas di rumah adalah seorang istri. Saya nih termasuk salah satunya. Karena ada juga beberapa keluarga yang ternyata, menteri keuangan dipegang oleh suami, istri mendapatkan “gaji” dari suami setiap bulan untuk mengurus segala keperluan rumah tangga (misalnya untuk groceries, membayar sekolah anak, les, etc). Kalau saya, suami memberikan hak sepenuhnya (baca seluruh pendapatan) untuk dikelola sesuai dengan pos-nya, dan sebagai menkeu, saya wajib juga memberikan laporan keuangan kepada suami :p

oke, kembali ke sharing mbak Prita, menurut beliau, seorang perempuan biasanya memiliki beberapa masalah keuangan yang khusus. Hal ini disebabkan oleh bad habit, jumlah saldo utang, gaya hidup, dan juga inflasi harga. Nah, agar keuangan menjadi lebih terkendali, maka ada beberapa langkah yang dapat dilakukan:

  1. Financial Check Up
  2. Membentuk Dana Darurat
  3. Mengatur Uang
  4. Membuat Anggaran Belanja
  5. Merencanakan Keuangan

Nah sudah disinggung nih sedikit di awal tadi mengenai Financial check up. Di sesi literacy yang pertama ini, pembahasannya memang meliputi Financiak Check up, membentuk dana darurat dan mengatur uang. Sesi selanjutnya akan membahas mengenai Anggaran Belanja. Oke, kembali lagi ke Financial check up. Ada 3 perangkat untuk melakukan Financial Check Up, yaitu :

1. Tabel Aset dan Kewajiban. Tabel kekayaan aset terdiri dari aset (kas, investasi, konsumsi) dan kewajiban/utang (pinjaman jangka pendek dan jangka panjang). Disini kita akan mengetahui total kekayaan bersih yang kita miliki dengan cara menghitung jumlah total aset dikurangi total kewajiban. Kebayang gak? Kira-kira gambarannya seperti ini.

file-2 3

2. Tabel Arus Kas. Tiap keluarga sebaiknya sih memiliki catatan arus kas: arus kas masuk dan arus kas keluar. Arus kas masuk ini meliputi: arus kas rutin berupa gaji dan arus kas tidak rutin berupa bonus, THR, komisi dan hadiah. Sedangkan arus kas keluar juga dibedakan menjadi dua, yaitu rutin dan tidak rutin. Arus kas keluar rutin seperti biaya rumah tangga, cicilan pinjaman, intinya pengeluaran rutin keluarga setiap bulan. Sementara yang tidak rutin seperti: biaya liburan, kurban, bayar PBB. Nah kalau liburan, sebaiknya mengambil pos dari arus kas masuk yan tidak rutin ya mama. Intinya di poin ini adalah: buat pencatatan pemasukan dan pengeluaran. Hal-hal yang dapat membantu dalam penyusuan tabel ini adalah mengumpulkan data-data seperti bon belanja, mutasi rekening, dan lainnya selama tiga bulan.

3. Hubungan Rasio-rasio Keuangan Dasar. Menurut mbak Prita, rasio-rasio keuangan dibagi menjadi rasio dana menabung, rasio berhutang, dan rasio likuiditas. Kira-kira seperti ini tabelnya. Semoga gak pusing ya bacanya :Pvisa rasio keuangan

Dana Darurat

Apasih yang dimaksud dengan dana darurat? Dana darurat kira-kira menggambarkan berapa besar dana yang tersedia untuk membayar biaya hidup sesuai dengan standar yang diinginkan jika terjadi penurunan penghasilan. Dana darurat ini penting banget karena manfaatnya juga banyak, misalnya: untuk biaya kesehatan : Biaya dokter, biaya obat, biaya rumah sakit yang tidak bisa ditunda. Jika kita mendapatkan musibah bencana alam, kemalingan, ataupun kematian (naudzubillah). Jika ternyata suami sebagai pencari nafkah utama mengalami PHK secara mendadak (duh ini juga naudzubillah) atau jika terjadi kerusakan peralatan rumah tangga yang signifikan, seperti AC rusak, Kulkas rusak, genteng roboh dan lainnya (amit-amit) :p. Kebayang kan pentingnya seperti apa. Kebayang kalau kita gak punya dana darurat dan terjadi kejadian yang tidak diinginkan seperti diatas.

Berapa sih besaran dana darurat yang harus disiapkan? Menurut mbak Prita, untuk yang sudah berkeluarga, minimal 3x pengeluaran rutin setiap bulannya. Jadi kalau saya pengeluaran rutinnya 10juta/bulan, maka dana darurat yang harus saya siapkan minimal 30juta rupiah. Dan dana darurat ini disimpan di rekening yang berbeda ya, jangan disatuin, bahaya nanti pas intip rekening, waah saldonya masih banyak, kepake deh, padahal tujuannya beda, buat dana darurat, oke?

Mengatur Uang

ini adalah pembahasan terakhir dari mbak Prita. Sebagai seorang perempuan, khususnya sebagai seorang ibu harus “pintar” dong mengatur uang. Meski kenyataannya, berdasarkan hasil survey ternyata kurang dari 25% perempuan Indonesia yang melek dengan literasi keuangan, duh. Untuk dapat mengatur uang dengan baik, perlu untuk periksa kesehatan keuangan mama. Di awal acara, mbak prita membagikan kepada kami para peserta form Periksa Kesehatan Keuanganmu, gak perlu mengisi besaran nominalnya, kami diminta untuk mengisi %-nya saja. Setelah saya isi, ternyata ada beberapa nih yang gak tepat alokasinya. Menurut mbak Prita, alokasi ideal keuangan keluarga per bulan adalah:

  • 5% Zakat dan Sedekah
  • 10% Menabung Dana Darurat
  • 30% Biaya Hidup
  • 30% Cicilan Pinjaman
  • 15% Investasi
  • 10% Gaya Hidup

Buat saya pribadi, PR nih, masih ada beberapa alokasi yang gak sesuai. Slowly but sure, meski gak semudah praktiknya, tapi yang penting ada niat dan usaha. Berusaha untuk bijak mengelola keuangan keluarga menuju Sejahtera, mungkin bisa dimulai dengan membedakan antara kebutuhan dan keinginan dulu :)

Semoga bermanfaat ya!

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: