Bogor Education Sekolah Alam Bogor

Mengenal Sekolah Alam

February 27, 2016

Jaman saya kecil dulu saat di kampung, saya hanya mengingat sekolah itu adalah sekolah negeri, SD Inpres dan Madrasah. Kebetulan saya bersekolah di SD Inpres 6/75 Watampone, salah satu kota administratif di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan yang jauh di sana. Namun seiring perkembangan banyak ya jenis sekolah saat ini, ada sekolah national plus, internasional, sekolah alam, sekolah Islam. Belum lagi kurikulum-nya, Montessori, pendidikan karakter, pendekatan multiple intelligences, alam, dan sebagainya. Nah tambah pusing kan? Saya gak akan membahas mengenai jenis sekolah tersebut apalagi kurikulumnya, di sini saya akan berbagi informasi aja mengenai sekolah alam, khususnya Sekolah Alam Bogor, di mana anak-anak saya bersekolah di sini.

Apasih Sekolah Alam?

Sekolah alam adalah sekolah yang menggunakan alam semesta sebagai media pembelajaran. Sekolah alam mengintegrasikan tiga pilar pendidikan yang diyakini menjadi faktor keunggulan umat manusia, yaitu pilar iman, ilmu dan kepemimpinan. Oleh karena itu kurikulum Sekolah Alam Bogor bukan hanya menekankan pada tercapainya tujuan akademik (kurikulum Diknas), melainkan juga mengembangkan kurikulum non akademik khas Sekolah Alam.

Adapun metode belajarnya sebagai berikut:

  1. Dalam membentuk akhlaqul karimah, digunakan metode keteladanan. Guru harus mencontohkan akhlaq secara nyata kepada siswa.
  2. Dalam membentuk logika ilmiah, digunakan metode spider-web atau tematik, alam & bisnis sebagai media belajar. Guru memfasilitasi siswa berinteraksi dengan alam dengan rangkaian tema/projek pembelajaran sedemikian rupa sehingga anak mendapatkan pemahaman yang holistik tentang alam semesta.
  3. Dalam membentuk jiwa kepemimpinan, digunakan metode out-bound sebagai media belajar. Guru melakukan aktivitas out-bound secara praktis bersama siswa.
  4. Dalam membentuk jiwa wirausaha, digunakan metode magang agar siswa berinteraksi dengan unit, pelaku dan lingkungan bisnis.

Umumnya sekolah alam menggunakan lahan yang cukup luas untuk mendukung aktivitas pembelajaran farming dan outbond. Siswa sekolah Alam juga tidak menggunakan seragam setiap hari. Seragam yang dimiliki adalah seragam untuk outbond dan outing atau jika ada kunjungan edukasi ke tempat-tempat tertentu.

Bagaimana dengan Kurikulumnya? 

Sekolah alam tetap mengacu kepada Depdiknas, namun sekolah alam juga mengembangkan konsep sekolah berbasiskan alam. Rapor yang diberikan kepada siswa ada dua, yaitu rapor akademis sesuai standar diknas dan rapor khas sekolah alam berupa portofolio siswa. Metode belajar mengajarnya lebih banyak menggunakan action learning atau belajar aktif dan berusaha mengembangkan pendidikan bagi seluruh umat manusia dan belajar dari seluruh makhluk hidup di alam semesta ini. Sekolah model ini tidak hanya dilengkapi laboratorium serta perangkat komputer lengkap, namun juga sekolah alam dibuat sebagai bagian dari alam terbuka. Ruang belajarnya ada berupa saung, pepohonan rindang dibiarkan tumbuh di tiap sudut sekolah, serta kelengkapan sarana eksplorasi, seperti, rumah pohon, papan climbing, lapangan bola dan arena flying fox. Di sekolah alam, anak-anak didekatkan dengan alam melalui suasana dan sarana yang memang sengaja dirancang untuk menumbuhkan kecerdasan natural anak. Seperti, bermain outbound, bercocok tanam, beternak, bermain sepakbola, dan menggambar. Mungkin kelihatannya mereka hanya bermain, tapi tahukah bahwa sesungguhnya mereka belajar banyak melalui pengalamannya itu.

Penggunaan alam sebagai media belajar inilah yang mengajarkan anak untuk lebih aware dengan lingkungannya dan mengetahui aplikasi dari pengetahuan yang dipelajarinya, tidak hanya sebatas teori dari buku. Ini juga yang menjadi kelebihan dari sekolah alam dibandingkan dari sekolah biasa atau sekolah umum yang menggunakan sistem belajar mengajar konvensional, di mana para guru menerangkan dan siswa mendapatkan pengetahuan hanya dengan mengandalkan buku panduan, jarang diberikan kesempatan untuk mengalami langsung atau melihat langsung bentuk pengetahuan yang dipelajarinya.

Di Sekolah Alam Bogor bahkan tidak menerapkan pemberian tugas atau PR. Siswa hanya diberikan Home Challenge setiap dua minggu sekali dalam bentuk cerita sesuai dengan tema pembelajaran saat itu. Di sekolah alam pengajaran tentang disiplin diri dan tanggung jawab diajarkan melalui cara dan kegiatan yang berbeda, misalnya membiasakan diri mengantre barisan saat akan mencuci tangan, bekerjasama dengan teman sebaya dalam mengerjakan tugas atau kegiatan outbound lainnya, bertanggung jawab saat siswa menjadi piket di sekolah. Selain itu, sistem ranking juga tidak diberlakukan di sini, raport berbentuk kualitatif dengan deskripsi pencapaian siswa dan juga hal-hal yang perlu ditingkatkan dan dibantu oleh orang tua di rumah. Rapor bukan menjadi satu tolak ukur prestasi siswa.

Untuk siswa kelas 1 – 3, mereka tidak mengenal ujian tengah semester ataupun ujian akhir semester. Mereka hanya mengenal istilah bermain peran, dimana anak-anak secara bergantian dan acak akan mendapatkan peran berbeda setiap hari. Misalnya jika siswa mendapatkan peran sebagai Dai Cilik, maka siswa tersebut akan mendapatkan soal mengenai Agama, peran akuntan untuk pelajaran matematika, turis untuk Bahasa Inggris, dsb. Berbagi peran ini dipilih secara acak untuk setiap siswa. Ujian ini dibuat seperti bermain sehingga siswa tetap mengikuti “ujian” tersebut dengan senang, tanpa tekanan.

Dekat dengan Alam

Selain dekat dengan alam, sekolah alam mengajarkan siswa untuk belajar secara aktif. Setiap siswa belajar dan diperkenalkan bendanya secara nyata, langsung diperlihatkan, anak bisa memegang, mencium baunya, memindahkan bendanya, dan lain-lain sehingga pemahaman mereka lebih lengkap dan bisa diingat lebih lama. Di sekolah alam, semua kegiatan dan proses belajarnya bertujuan membuat anak lebih sadar dan peduli terhadap lingkungan, sehingga selain bisa menghargai perbedaan-perbedaan yang ada juga bisa mengajarkan betapa pentingnya menghargai alam. Di sekolah alam juga mengenalkan bank sampah, setiap siswa dapat menabung sampah sesuai dengan kategori dan nilai yang sudah ditetapkan, misalnya untuk bungkus isi ulang sabun Rp500,-/kg, kardus Rp1.500,-/kg, koran Rp1.000,-/kg, minyak jelantah Rp2,000,-/kg. Sterofon dan plastik seperti kantong plastik tidak akan diterima oleh Bank Sampah. Tulisan mengenai Bank Sampah saya akan buat terpisah.

Di Sekolah Alam Bogor dikenal dengan kalimat SALAM yang juga merupakan Nilai-nilai dari Sekolah Alam Bogor. Kalimat ini mengandung arti Sekolah Alam, Islam, keselamatan, kepatuhan dan kedamaian. SALAM juga merupakan singkatan dari Spirit, Akhlaq, Learning, Advance dan Meaning. Diharapkan setiap insan yang berada dilingkungan Sekolah Alam Bogor adalah insan yang memiliki semangat juang dan keikhlasan, berakhlak mulia, terus belajar, menjadi pelopor dalam setiap kebaikan dan senantiasa memberikan manfaat. Spirit (Berjuang bersama membangun peradaban dengan penuh semangat dan keikhlasan), Akhlaq (Menjadikan akhlakul karimah sebagai bingkai dalam bekerja menggapai kemuliaan), Learning (Belajar tiada henti untuk meningkatkan kapasitas diri dan lembaga), Advance (Selalu berusaha menjadi pelopor perubahan melalui kreativitas dan inovasi) serta Meaning (Berkomitmen untuk memperbanyak kemanfaatan bagi orang lain dan umat).

Sekian informasi tentang sekolah alam, semoga dapat menjadi bahan pertimbangan untuk setiap orang tua dalam memilih sekolah untuk buah hati. Mengutip perkatan Prof. Dr. Arief Rahman di sini: setiap orangtua sebaiknya memilih sekolah yang suasana dan proses belajarnya baik karena sekolah dengan suasana dan proses belajar yang baik akan menghasilkan anak didik berkarakter baik pula. Orangtua juga harus memahami pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak, pilih sekolah bukan karena gengsi, tetapi sesuai kebutuhan anak untuk masa mendatang, serta bangun komunikasi yang baik dengan anak tentang pendidikan yang menjadi cita-cita anak.

Ustadz Harry Santosa (pendiri Millenial Learning Centre) mengatakan:

Saya usul kepada para orang tua yang “melirik” sekolah alam atau sekolah alternatif sejenisnya, tetapi masih mempertanyakan “legal” dan “tidak legal”, masih mempertanyakan bisa achieve “nilai akademis”, masih mempertanyakan fasilitas dan hal-hal non teknis lain seperti jalan masuk, bangunan, dll., masih mempertanyakan “kurikulum diknas”, masih berniat memasukkan anaknya ke SMP Negeri, masih beranggapan sekolah alam semacam penitipan anak-anak “liarrr”, masih menganggap sekolah alam adalah sekolah unggul dst-nya agar segera melupakan sekolah seperti ini, karena akan justru mengganggu “kebahagiaan” anak-anaknya kelak. Dan jangan teruskan membaca tulisan ini.

Tetapi bagi mereka yg merindukan “sekolah alternatif” dengan segala ekperimen dan inovasi tentang implementasi sekolah yang membebaskan dan membahagiakan, bagi mereka yang curious dgn perkembangan potensi bakat anak plus akhlak/karakter ketimbang akademis, bagi mereka yangg berfikir  “lebih baik mencoba sesuatu yang belum tentu gagal, daripada melanjutkan sesuatu yang sudah pasti gagal” , maka sekolah alam atau berbasis berbasis potensi bersama komunitas bisa menjadi pilihan yang tiada lagi pilihan lain.

Anak-anak Sekolah Alam sering keok kalau lomba cepat tepat, tetapi sangat hebat kalau lomba merancang dan mendesign serta mengimplementasikan proyek bersama. Anak Sekolah Alam tidak perlu belajar serius tentang akademik, karena yang dibutuhkan dan diajarkan di sekolah ini adalah tentang curiosity, tradisi belajar sehingga tanpa sadar membawanya pada fast learning. 

Anak saya misalnya bisa masuk SMP Negeri favorit dengan rangking atas, cukup di “drill” 2 bulan saja. Anak Sekolah Alam memiliki kemampuan memimpin, keberanian berekspresi melebihi anak2 lain, walaupun sering bengong krn tidak mengenal nama “artis pop” beserta lagunya.  Sebelum belajar mereka membaca ma’tsurat dan menghafal Qur’an, setelah itu belajar dan bermain dengan kambing, mencari harta karun barang bekas, memanjat atap sekolah, memancing ikan, mengerjakan tugas di pinggir danau, berselancar di internet dan perpustakaan. 

Mereka tidak pakai buku tulis dan tidak punya buku cetak, yang ada adalah kertas setengah pakai dan perpustakaan serta diskusi yang mengasikkan. Kelas mereka sama sederhanya dengan “kandang kambing”, itu menurut anak teman saya yg menolak sekolah di sekolah alam karena terbiasa di sekolah islam yang elitis dan mewah.

Tas mereka besar-besar, isinya bukan buku, tetapi baju ayah untuk berkebun, jas hujan, termos minuman, baju salin dan sepatu boots. Liburan mereka tidak naik bis mewah dan menginap di penginapan hangat, liburan mereka adalah ekspedisi ke daerah konservasi, mencari jejak badak, berkano di sungai kecil menyusuri hutan sepi dan rindang, naik kapal kayu menyeberang selat, tidur di tenda, berbasah-basah dan ditempeli lintah. 

Ini sekedar berbagi pengalaman. Anak-anak itu bahagia. Mungkin orangtuanya yg malah “miris” . Dari sinilah, insyaaAllah lahir pemimpin yang tidak elitis, yang sejak kecil terbiasa menghargai alam, menghargai sekolahnya bukan karena kemewahan gedungnya dan licinnya seragam, tetapi pesona kebersamaan dan pesona miniatur kehidupannya. Memuliakan teman-teman sesama karena kebaikan akhlaknya bukan karena rangkingnya. Mereka terbiasa mencintai sekolahnya, bahkan sampai hari ini, anak saya sdh SMA, bersama teman-temannya sering mengenang masa-masa indah di Sekolah Alam yang membuat mereka “benar-benar diterima” sebagai manusia seutuhnya.

Nah, jika anda nekat memaksa anak anda masuk sekolah alam atau sekolah semisal ini, tanpa mau merubah paradigma tentang sekolah, maka anda bisa jadi akan menghalangi dan merusak kebahagiaanya kelak.

 

Referensi:

http://sekolahalambogor.id/ dan https://tentangsekolahalam.wordpress.com/

 

 

You Might Also Like

3 Comments

  • Reply Shinta March 11, 2016 at 3:26 pm

    sekolah alam Bogor kereeeeeen…….

  • Reply bunda rizma May 25, 2016 at 12:23 pm

    aku suka banget sama konsepnya sekolah alam…..
    kebanyakan pengajarnya masih muda2 banget ya. ah, pokoknya suka.

  • Reply Essy June 5, 2017 at 12:50 pm

    boleh cerita sedikit tentang pendaftarannya? baca info daftarnya online ya? insya Allah tahun ini mau daftarin anak ke SAB, deg2an takut gak dapat kuota…. makasih sebelumnya

  • Leave a Reply

    %d bloggers like this: