Education Sekolah Alam Bogor

Belajar dari Bank Sampah

March 3, 2016

Sebenarnya saya sudah menulis tentang Bank Sampah di sini, namun saya post ulang di blog ini ya :)

Kalau menabung uang di bank sepertinya semua udah pernah dilakukan, termasuk anak-anak. Nah bagaimana jika anak-anak menabung bukan uang, melainkan sampah? Ada bank-nya pula, namanya Bank Sampah. Saya sendiri bingung ketika pertama kali mendengar istilah ini. Sekolah Alam Bogor dimana anak saya bersekolah di sana, memiliki program bank sampah, menabung sampah menuai berkah. Apa itu bank sampah? Sama konsepnya dengan menabung uang di bank, anak-anak membawa sampah/barang bekas ke sekolah dan disetor ke bank sampah, setiap anak yang menyetor sampah ini akan dicatat oleh penanggung jawab bank sampah. Nilai sampah juga berbeda untuk setiap ketegori sampah yang dibawa.

Source: facebook page Sekolah Alam Bogor

Alur proses bank sampah ini sendiri kurang lebih seperti ini:

  • Anak membawa sampah dari rumah, seperti bekas kardus susu, botol atau gelas minuman plastik, bungkus pewangi pakaian atau sabun cair, kertas bekas, minyak goreng bekas, kardus, dan sebagainya. Sampah dalam keadaan bersih, saya dan Lana biasanya mencuci atau membersihkan dulu bekas kemasan ini. Kebetulan jadwal setor bank sampah ini untuk kelas 1 adalah setiap Senin, Rabu, dan Jumat. Jika anak membawa di luar hari-hari tersebut, tidak akan diterima oleh petugas bank sampah. Sampah hanya disimpan di loket dan belum diproses, oleh karena itu setiap kemasannya wajib diberi nama dan kelas, untuk memudahkan petugas bank sampah memproses di hari selanjutnya.
  • Petugas bank sampah (Teller) akan menaksir nilai sampah. Nilai taksiran sampah sudah ditentukan dan disesuaikan dengan jenisnya. Misalnya untuk sampah bungkus isi ulang sabun Rp500,-/kg, kardus Rp1.500,-/kg, koran Rp1.000,-/kg, minyak jelantah Rp2,000,-/kg. Khusus sampah sterofon, bank sampah akan menolak, atau sampah plastik mika, dan sejenisnya.
  • Sampah disimpan di kotak sesuai dengan klasifikasinya. Pencairan konversi nilai tabungan sampah langsung tercatat ke dalam buku tabungan , disatukan dengan tabungan uang atau bisa juga hasilnya diinfaq-kan. Setiap anak akan diberi pilihan.
Saya penasaran mau diapakan sampah-sampah yang terkumpul di bank sampah ini? Ternyata pihak sekolah akan menyalurkan melalui tiga pos, yaitu:
  1. Pos media belajar, sampah disediakan sebagai bahan baku pembuatan media belajar di sekolah.
  2. Pos daur ulang. Sampah tertentu akan dijual ke galeri binaan Sekolah Alam Bogor sebagai bahan baku pembuatan karya daur ulang oleh masyarakat binaan Sekolah Alam Bogor.
  3. Pos pengepul, sampah yang belum dapat didaur ulang sendiri dijual ke pengepul barang bekas, hasil penjualan digunakan untuk membiayai operasional bank dan bengkel kreasi

Dengan adanya bank sampah ini, anak saya jadi rajin mengumpulkan sampah di rumah, dia juga membiasakan diri untuk tidak membuang sampah di sembarangan tempat, ia juga belajar memilah-milah sampah, baik sampah basah maupun sampah kering, mana yang termasuk sampah organik ataupun non organik. Anak-anak juga lebih tahu bahwa bekas kotak susu yang ia minum sehari-hari, atau bungkus plastik isi ulang detergen yang digunakan di rumah ternyata dapat dimanfaatkan kembali, dapat menjadi bahan pembelajaran, dapat menjadi karya seni, dapat berguna dan dapat dijual dan menghasilkan uang. Secara langsung, anak-anak di Sekolah Alam Bogor ikut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan.

Saya pribadi sangat takjub dengan program Bank Sampah ini, berharap suatu ketika di setiap komplek perumahan memiliki program kreatifitas seperti ini. Jujur, saya menyambut baik dan antusias dengan program plastik berbayar dari pemerintah, setidaknya dari kacamata saya pribadi, ini bisa meminimalisir sampah plastik.  Apalagi seperti yang kita ketahui bahwa sampah di Indonesia paling banyak berasal dari rumah tangga. Daripada “protes” bahkan sampai ada yang mengaitkan kantong plastik berbayar dengan kapitalis dan sebagainya, apasalahnya kita coba jalankan terlebih dahulu, cobalah membiasakan diri membawa reusable bag  dari rumah.

Mengutip kalimat Aini di sini Kita hanya punya satu bumi, tetapi ada banyak cara untuk menjaganya.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: