Family

Berakhir Pekan di Lembang Bandung

May 23, 2017

Long weekend kemarin, kami berangkat ke Lembang Bandung dan menginap selama 2 malam di sana. Itinerary kami hanya mengunjungi beberapa tempat di Lembang, diantaranya berkunjung ke Boscha Observatorium dan Floating Market. Kami sengaja berangkat sehari lebih awal dari jadwal libur untuk menghindari kemacetan ke arah Bandung. Selepas Lana pulang sekolah, kamipun langsung berangkat ke Bandung dan menuju ke Lembang.

Malam hari, kami tiba di Lembang dan langsung menuju ke Casa Lembang yang sudah kami pesan melalui airbnb. Fasilitasnya lumayan lengkap, saya bisa memasak di dapur, memanggang roti untuk sarapan anak-anak di pagi hari, membuat kopi. Rumah mungil dan lucu ini terdiri dari 3 lantai, nyaman sekali, bersih dan rapi. Jika membawa si kecil, rumah ini juga menyiapkan baby chair, dudukan toilet khusus untuk anak-anak di kamar mandi dan beberapa peralatan makan khusus untuk anak-anak. Pokoknya fasilitasnya lengkap. Bahkan di sana juga disediakan rice cooker, saya pun sempat memasak nasi di sana, berasnya bawa sendiri dari rumah :)

Di rumah ini, setiap sudut sangatlah instagramble untuk foto. Pagi hari, kami bisa menikmati pemandangan gunung dari patio yang terletak di lantai 3 sambil menikmati secangkir kopi dan mendengar alunan musik Payung Teduh. Tenang, di Casa Lembang sudah disiapkan mesin kopi Delonghi, ahhh naksir banget deh sama mesin kopinya Casa Lembang ini. Pokoknya Casa Lembang favorit banget, menginap di sini berasa gak mau pulang :p

Berikut beberapa tempat yang kami kunjungi saat berada di Lembang:

Floating Market Lembang

Kami mengunjungi Floating Market yang kira-kira lokasinya sekitar 2,5Km dari Casa Lembang atau sekitar 13 menit jika menggunakan kendaraan pribadi. Kami tiba disana sekitar pukul 10.00am. Tiket masuk ke Floating Market ini sebesar Rp 20,000,- per orang. Tiket masuk ini dapat ditukar dengan berbagai jenis minuman panas atau dingin, seperti latte, lemon tea, milo, coklat. Floating market Lembang adalah tempat wisata yang memadukan perpaduan alam dan pegunungan lembang dengan pasar terapung.

Mama dapat membeli makanan tradisional seperti Kupat tahu, mie kocok, sate, kue balok, dsb di atas perahu yang terapung di danau. Jangan lupa untuk membeli koin, karena berbelanja di Floating Market ini hanya bisa menggunakan koin floating market, bukan uang tunai yang biasa kita gunakan sehari-hari. Kisaran harga makanan disini sekitar Rp10.000 – Rp 35,000,-, cukup terjangkau ya.

Selain jajanan tradisional, juga terdapat beberapa wahana permainan air seperti menaiki sampan, kereta air, sepeda air, paddle boat dan kano. Saya dan anak-anak menaiki kereta air, cukup membayar Rp 20,000 per orang, dan jika penumpang sudah mencapai 5 (lima) orang, maka kereta air dapat dijalankan. Pembayaran juga menggunakan koin, koin ditukarkan dengan tiket dan diserahkan kepada petugas kereta air. Setiap penumpang diwajibkan menggunakan rompi pelampung yang sudah disiapkan. Seru bisa menikmati pemandangan Floating Market ini dengan mengelilingi danau sambil menaiki kereta air. Selain bermain wahana air, Lana dan Yoona juga bermain flying fox dan panjat tebing. Cukup membayar Rp 35,000,- per orang dan per permainan.

Fasilitas di Floating Market ini juga cukup baik, mushollah dan toiletnya cukup bersih. Mama dapat mengelilingi area ini dengan cara berjalan kaki menyusuri track yang sudah tersedia, kondisi tracknya juga cukup baik. Dan tentunya banyak tempat yang lucu untuk foto bersama. Kami cukup lama berada di Floating Market ini, kami menghabiskan waktu sekitar 5 jam untuk mengelilingi, makan, ngemil dan beristirahat di sini.

Makan sore di Rumah Kayu Kafe Taiwan

Menjelang sore hari, kami mampir di Rumah Kayu Kafe Taiwan yang terletak di Jalan Wira no 22 Lembang yang menyajikan menu makanan khas Sunda. Menu yang direkomendasikan adalah cincau, saya pun mencoba cincau hijau polos, rasanya enak dan segar. Anak-anak memesan ayam goreng serundeng, saya memesan sop buntut, suami memesan cah genjer oncom, tumis cabe hijau dan ayam cabai hijau. Semuanya enak. Harganya juga cukup terjangkau, berkisar Rp 20.000 – 50.000 per menu.

Di hari pertama, setelah berkunjung ke Floating Market dan makan di Rumah Kayu Kafe Taiwan, kamipun kembali ke Casa Lembang. Hari kedua, kami bergegas check out dari Casa Lembang dan bersiap kembali ke Bogor, namun sebelum pulang, saya mengajak anak-anak mengunjungi Boscha Observatorium yang lokasinya juga berada di Lembang. Jaraknya juga cukup dekat dari tempat kami menginap, sekitar 3,6km dari Casa Lembang

 

Bosscha Observatorium

Mengunjungi Bosscha menjadi salah satu agenda liburan ke Lembang. Semenjak menonton film Petualangan Sherina dan Iqro, Lana ingin sekali berkunjung ke Bosscha. Kamipun mencari tahu jadwal berkunjung (link ke https://bosscha.itb.ac.id/kunjungan/), karena Bosscha ternyata tidak buka setiap hari untuk umum, dan bukan tempat wisata. Hari itu, Sabtu kami berkunjung ke sana. Ada beberapa sesi berkunjung yang sudah ditentukan dan dikenakan harga tiket masuk sebesar Rp 15,000,- per orang untuk durasi berkunjung selama satu jam. Saat itu kami memilih sesi pukul 10.45wib.

Tepat pukul 10.45, kami dan pengunjung lainnya memasuki kubah tempat teleskop Zeiss yang merupakan teleskop terbesar di observatorium Bosscha. Sudah ada pemandu yang menginformasikan kepada kami mengenai sejarah singkat Bosscha, teleskop Zeiss dan tentang astronomi. Observatorium Bosscha didirikan pada tahun 1923 – 1928. Nama Bosscha sendiri diambil dari nama Karel Albert Rudolf Bosscha yang merupakan seorang pengusaha teh dari Belanda dan sebagai penyandang dana pembangunan dan pembelian teropong bintang, termasuk teleskop zeiss ini. Teleskop zeiss juga merupakan teleskop tertua usianya memasuki 90 tahun dan memiliki diameter sebsar 60cm dengan panjang fokus hampir 11m. Hampir semua planet pernah diteliti menggunakan teleskop Zeiss ini. Sayangnya, karena kami berkunjung di siang hari, kami tidak diperkenankan untuk meneropong. Lain waktu saya ingin mengajak anak-anak untuk berkunjung di malam hari agar anak-anak bisa meneropong bintang secara langsung.

Menarik sekali mendengar penjelasan dari pemandu saat itu, dan menurutnya saat ini kondisi di sekitar observatorium Bosscha dianggap tidak layak untuk mengadakan pengamatan karena perkembangan pemukiman penduduk maupun bisnis di daerah Lembang cukup pesat menyebabkan polusi cahaya sehingga mengganggu para peneiliti yang melakukan penelitian antariksa di Bosscha. Oleh karena itu, pemerintah mulai membangun observatorium baru di daerah Kupang, NTT.

Menyenangkan sekali bisa berlibur ke Lembang kali ini. Siapa nih yang berencana menghabiskan akhir pekan di Lembang? Selamat berlibur, selamat menikmati dingin dan hijaunya Lembang :)

 

 

 

You Might Also Like

2 Comments

  • Reply ninit June 7, 2017 at 6:44 pm

    ipeeeh… terima kasih ya udah bermalam di casalembang :) semoga nyaman dan berkesan. welcome back anytime yaaa :)

    • Reply Ipeh July 27, 2017 at 8:44 am

      sama-sama teh ninit, pastinya kalau ke Lembang, nginapnya di Casa Lembang.

    Leave a Reply

    %d bloggers like this: