Stories

Belajar Menghargai

August 3, 2017

Beberapa hari terakhir, timeline sosial media dipenuhi dengan berbagai komentar “buruk, memojokkan bahkan menebar kebencian” akibat salah satu posting Psikolog terkenal mengenai band asal Korea yang akan diundang ke salah satu event di ibukota nanti. Oke, saya gak akan bahas tentang “persoalan sang ibu Psikolog yang sudah mengajukan permintaan maaf”, dan saya bukan membela sang Ibu melalui blogpost ini, tooh saya siapa sih, dan belum tentu juga kali tulisan saya dibaca :p

 

Saya hanya miris dan SEDIH (sengaja di caps lock) melihat tanggapan yang “membabi buta” mulai dari anak (mungkin) masih ABG sampai ke Ibu-ibu. Iya, saya miris banget membaca beberapa komentar negatif yang dipost oleh beberapa ibu (IBU) di sosial media, kesan menghina, mencaci, menganggap sang Ibu lebay banget, yang terlihat jelas sikap “bully” yang ditujukan ke Ibu psikolog tersebut. Sedih, karena seharusnya kita sebagai ibu yang menjadi contoh buat anak-anak di luar sana yang membaca komen atau apa yang kita post di sosial media, bahkan ke anak-anak kita sendiri, bagaimana seharusnya kita sebagai seorang ibu, orang tua, mencontohkan ke mereka bagaimana berperilaku, menghargai sesama, orang yang lebih tua, dan tidak merendahkan.

 

Jika ingin protes, silakan tapi dengan cara yang “pantas” dan baik, menyampaikan dengan cara yang ma’ruf. Bukan memperburuk, memprovokasi dan menebar kebencian. Apajadinya, kalau anak-anak di luar sana membaca post/komentar kita, bagaimana jika anak-anak kita sendiri yang sudah melek teknologi dan bermain sosial media, melihat sosok Ibunya “membully” orang lain? Sementara kita sendiri selalu menekankan ke anak sendiri bahwa jangan membully teman atau orang lain. Naudzubillah min dzalik.

 

Semoga kita sebagai seorang Ibu bisa belajar, dan terus belajar bagaimana menghargai orang lain, berperilaku santun, karena keluarga, orang tua, merupakan tempat pertama belajar anak-anak kita. #notetoself.

You Might Also Like

No Comments

Leave a Reply

%d bloggers like this: